JANGAN AJARI ANAKMU JADI PEMINTA-MINTA DI HARI IDUL FITRI

Selain tradisi makan lontong plus rendang ditambah dengan acara bersilaturahmi keseluruh keluarga, ternyata hari lebaran idul fitri itu juga menjadi hari ajang mencari duit dengan mudah bagi mereka yang berusia remaja dan anak-anak. coba acungkan tangan yang tidak pernah menerima sepersenpun angpao dari sanak keluarga ketika bersilaturahmi dimasa kecil dulu? saya rasa bagi mereka yang mampu, jelas tidak ada.

Entah dari mana asal muasal pemberian angpao di hari lebaran itu bermula. Bahkan tradisi pulang kampung saja hanya ada di negara-negara Melayu sepertinya, karena di tanah gurun timur tengah tidak ada acara pulang-pulang kampung. tetapi kalo acara open house sepertinya rame juga di tanah arab sana.

kalo, dulu menurut emak ku pemberian angpao ini sebenarnya hanyalah hadiah atas keberhasilan seorang anak setelah melampaui puasa sebulan penuh dengan baik alias gak ada yang bolong. harapannya di bulan puasa mendatang ia akan lebih mantap lagi menjalankan puasa (kok gak jadi ikhlas gitu ya?). nah, yang bertugas memberikan angpao adalah mereka-mereka yang sudah tua dan bekerja.

alhasil, kini aku yang sudah bekerja harus mengalokasikan dana THR ke kantong-kantong angpao juga ke persiapan lebaran untuk di rumah. well, bisa dikatakan uang THR habis sekejab mata.heheh..bukan tak ikhlas, tapi rasanya ada yang tidak benar dalam pemberian angpao ini. seakan-akan mengajarkan anak-anak dan adik-adik kita untuk mementingkan menengadahkan tangan dibandingkan menelungkupkan tangan. alias memberi pelajaran suka minta-minta deh.

“Liat tuh pakde datang. Salim sana biar dapat uang”
“Ayo kita ke rumah teman ayah. Dia orang kaya, kalo kesana pasti dikasih”
“Mana nih tante buat ponakannya masa belum dikasih. Tante kan kerja thr nya banyak”
Dan ucapan2 sejenis yang kadang masih terucap dari lisan orang tua yg kurang kajian.

Sungguh malang nasibmu, nak. Jika yang orang tuamu ajarkan adalah mental orang2 lemah. Mental peminta-minta yang justru sebenarnya dalam islam sangat tidak dianjurkan.

padahal ada pepatah lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah.sebenarnya tidak mengecilkan orang yang meminta – minta kalau memang dia membutuhkan tapi jika tidak membutuhkan bahkan terbawa dengan adat – adat dan pemahaman yang salah itu tidak benar. lebih kejam lagi orang tua mengajari anaknya menjadi peminta – minta. Kelihatannya remeh tapi akan membuat dampak besar bagi mental dan perkembangan pemikiran seorang anak.Tanpa disadari oleh orang tua dan sanak saudara yang lain mereka menciptakan lingkungan PENGEMIS.

“Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidak fakir, maka seakan-akan ia memakan bara api” (HR Ahmad 4/165)

Dalam islam kita diajarkan, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat pada yang lainnya.
Jika kita belum mampu menebar manfaat (berbagi), maka islam juga mengajarkan kita agar memiliki rasa iffah, yaitu rasa malu dalam takwa, termasuk malu dalam meminta-minta.
Juga rasa izzah, yaitu sifat menjaga diri yang tinggi sebagai seorang muslim, yang dgn itu membuatnya tak mau merendahkan diri hanya demi rupiah.

So, pilihan bagi muslim yang baik adalah berbagi atau tetap menjaga diri dari meminta-minta.
Tinggikan derajatmu dengan tidak mengajarkan si kecil meminta pada nenek, kakek, om, tante, paman, uwa, pakde, pakle dll, dsb, dst di hari nan suci…🙏🙏🙏