Pengumuman Hasil Seleksi PPDB Pondok Sumber Barokah Karawang (Bagian 1)

PESERTA PENDAFTARAN SMK Pondok Sumber Barokah Karawang YG SUDAH INTERVIEW

sebagai berikut :

1. Tubagus soni al hafidh
2. M. Sulton abdul aziz
3. Zahra syahida qonita
4. Briski waldan awala
5. Andre fernanda
6. Aditia khoirul fadillah
7. Fahmi sobron jamil
8. Ramadhan iqbal
9. Sultan sabil gustian
10. Danil rizki billah
11. Andrian comandini
12. Yahya alsyabani
13. Iqbal wibisono
14. Anifa faulina
15. Erland fauzi alfafa
16. Jihan adam novaldi
17. Gilang rase firdaus
18. Alfa nasrullah
19. Arif hidayat
20. Sandy fadillah
21. Sarah azizah
22. Mishbah nur hafidh
23. Faisal nurhakim
24. Muhammmad ibraham
25. Khoirul aminudin
26. Muhammad kaisan
27. Zuhud damar ratri sila
28. Achmad dani setiawan
29. Marsharani as syifa
30. Redhie ichwantoro
31. Apriliadi
32. Aditya khoirul fadillah.
33. Muhamad khoiri R.
34. Muhammad rafiq
35. Hasan ichwansyah
36. Denis elgina
37. Rifki nur wibowo
38. Siti anjani
39. Rani azizah
40. Willa nadya fitriani
41. Muzzika
42. Muhammad aripin
43. Muhammad hafidz septian
44. Dhohiru ibnu hidayatullah

 

Nama – Nama Lain akan di Update Sesegera mungkin.mohon Bersabar Yaa…

Banyak Doa Agar Lulus Seleksi Sehingga bisa diterima di pondok sumber Barokah Karawang…

Semoga Berhasil…

 

Wisata di Jawa Barat (Karawang) – Pantai Tanjung Pakis

Indonesia adalah negara maritim yang terdiri dari gugusan pulau-pulau nan eksotis. Semua Indonesia miliki, menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata bagi turis dari berbagai negara. Kecantikan alam yang Indonesia miliki dipercantik dengan budaya masyarakat lokal yang ramah, dan masih menjunjung tinggi ketradisionalan daerahnya.

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap destinasi kepariwisataan banyak berada di wilayah kabupaten, yang mayoritas masih menjadi satu daerah otonom yang masih terbelakang. Inilah yang bisa kita lihat dari wilayah Kabupate Karawang.

Kota Karawang sebuah kota yang terletak di daerah pantai utara Jawa Barat. Banyak yang mengetahui bahwa daerah Karawang merupakan kota industri yang banyak sekali berdiri pabrik-pabrik di sekitarnya. Walaupun kota ini padat akan industri, akan tetapi kamu jangan salah karena kota Karawang ini juga memiliki berbagai tempat wisata yang menarik dan wajib dikunjungi diakhir pekan sekaligus sebagai daerah alternatif kunjungan wisata diakhir pekan.

Pantai Tanjung Pakis adalah tempat wisata yang berada di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pantai ini berlokasi di Desa Tanjung Pakis atau berjarak sekitar 70 KM dari pusat Kabupaten Karawang. Saat menjelang liburan, wisatawan yang berkunjung ke Pantai Tanjung Pakis sangat banyak, karena memiliki keindahan pantai dan kedepan akan menjadi salah satu potensi wisata terbaik yang ada di Karawang.

Banyak sekali tempat wisata di Karawang yang disuguhkan mulai dari wisata sejarah, wisata alam ataupun taman rekreasi lainnya. Pantai Tanjung Pakis, adalah salah satu pantai yang terletak di Kabupaten Karawang Jawa Barat, Lokasi Pantai Tanjung Pakis berada di Kecamatan Pakisjaya, berjarak sekitar 68 Km dari pusat Kota Karawang, arah ke Utara, sekitar 22 Km dari area Situs Batujaya. Sama halnya pantai Utara Jawa lainnya, ombak Pantai Pakis tidak besar, dengan pasir kecoklatan yang lembut.

Di Pantai Pakis yang membentang sepanjang 7 Km ini pengunjung bisa menyewa perahu untuk menikmati panorama dari laut. Ada pula dermaga kayu, sarana outbound, banana boat, air bersih, warung makanan yang menawarkan bandeng bakar, penginapan, dan panggung hiburan. Meskipun dikabarkan sebagai pantai terindah di Karawang, namun belum ada angkutan umum untuk mencapai tempat ini.

Salah satu hal yang menarik dari pantai ini yaitu hamparan pasir putih yang terbentang luas di pinggiran pantai ini. Ombak yang tenang dan indah juga memperindah pemandangan pantai satu ini. Pada akhir pekan banyak pengunjung yang datang ke tempat ini untuk sekedar menghabiskan waktu bersama teman – teman atau keluarga. Untuk anda yang ingin berwisata kuliner, berbagai ikan bakar juga disajikan di pinggir pantai. Banyak warung makan di sekitar pesisir pantai yang bisa Kamu temui.

Pantai ini memiliki potensi wisata bahari yang menjanjikan. Ini bisa dilihat dari banyaknya wisatawan yang datang saat musim liburan. Apalagi, saat libur lebaran seperti beberapa waktu yang lalu. Pantai ini disesaki pengunjung dari dalam dan luar Karawang.

 

Jalur Transportasi dan Jalur Menuju Pantai Tanjung Pakis

Walaupun untuk berkunjung ke pantai Tanjung Pakis tidak tersedia angkotan umum. Namun siapa sangka minat wisatawan yang berkunjung ke pantai ini tak pernah berkurang. Kebanyakan pengunjung di Pantai Tanjung Pakis adalah keluarga yang menggunakan mobil ataupun menyewa mobil. Berbagai kawula muda yang ingin menikmati keindahan alam di sini dapat menggunakan sepeda motor bersama teman, sahabat ataupun orang tercintanya.

Untuk rute perjalanan menuju pantai Tanjung Pakis, kita ada beberapa alternatif jalan yang bisa kita gunkan. Alternative pertama adalah kita bisa melalui Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi untuk anda wisatawan yang dari Cibitung. Dan alternatif kedua dengan melalui jalan underpass sebelum kita mengendarai mobil memasuki Tol Karawang Barat.

Untuk kita yang ingin cepat menikmati keindahan alam disini, bisa saja kita memilih jalur Bekasi, namun kondisi jalan yang sedikit menantang. Adapun rute yang dilalui adalah sebagai berikut:

Dari Kabupaten Bekasi menuju ke Masjid At-Taqwa yang merupakan ponpes dari KH.Noer Alie, lalu Babelan. Jika memilih jalan ini, maka kondisi jalan yang sedikt terjal dan berbatu. Sehingga saran kami, jangan melewati jalan ini ketika hujan. Jalur ini sangat cocok untuk kendaraan off road yang biasanya sangat cocok untuk truk pembawa bahan bakar mintak ( Pertamina ).

Dalam perjalanan menuju Pantai Tanjung Pakis, kita akan melewati berbagai hamparan sawah yang lengkap dengan berbagai pipa minyak, Selain itu terdapat jembatan kayu yang menjadi tempat untuk berfoto oleh kawula muda. Daerah ini adalah daerah Kali Cibe’el. Tak lama kita melanjutkan perjalanan, kita akan menemui perbatasan antara Kabupaten Bekasi – Karawang yang ditandai oleh sungai besar yang masyarakat setempat menyebutkan Muara Gembong. Muara Gembong memiliki aliran air yang cukup deras dan dingin.

Setelah sampai di Muara Gembong, kita harus menggunakan rakit untuk alat penyeberangan. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai dengan istilah eretan. Eretan adalah transportasi untuk menuju ke Kabupaten Karawang jika kita dari Kabupaten Bekasi Muara Gembong. Kita hanya perlu membayar dengan Rp 10.000 untuk sepeda motor dan Rp 30.000 untuk mobil. Selain itu di tambah Rp 2000 untuk setiap orang yang ada di dalam mobil.

Pantai tanjung Pakis bias kita tempuh dengan waktu kira-kira 1.5 jam jika kita dari Muara Gemong . Salah satu tanda jika kita sudah mencapai atau berada tak jauh dari Pantai Tanjung Pakis adalah ditandai dengan keberadaan tambak-tambak miliki nelayan yang ada di sekitar pantai ini.

Untuk tiket masuk Pantai Tanjung Pakis, kita hanya perlu membayar kira-kira Rp 25.000 untuk per orang. Biaya tersebut akan dikelola oleh pemerintah setempat untuk membangun berbagai fasilitas yang berada di kawasan pantai ini. Sebaiknya sebelum kita menikmati keindahan pantai ini, tak ada salahnya jika kita mampir ke warung-warung yang berada di sekitar pantai untuk makan berbagai hidangan laut dari berbagai jenis harga.

Biaya Hotel dan Penginapan di Pantai Tanjung Pakis

Jika kita berencana untuk menginap di Pantai Tanjungt Pakis, kita hanya perlu menyewa kamar dengan harga mulai  Rp 100.000 sampai Rp 700.000. Di hotel tersebut anda dapat menikmati berbagai fasilitas yang ada . Sehingga keesokan harinya, kita akan lebih puas lagi untuk menikmati suasan a pagi di pantai ini.

bagi yang kesulitan untuk mendapatkan info penginapan dan oleh – oleh ikan bandeng pakis bisa hubungi admin melalui komentar atau tlp 085730231567

Tambak Bandeng Terbesar di Jawa Barat

Tanjung pakir juga mempunyai ratusan hektar tambang yg di maksimalkan untuk membudidayakan ikat bandeng.

Wisata di Jawa Tengah (Magelang) – Candi Borobudur

Tips Berwisata ke Candi Borobudur

Supaya perjalanan wisata kamu di Candi Borobudur nyaman dan menyenangkan, berikut ada beberapa tips yang bisa diikuti:

  • Kenakan pakaian yang nyaman dan mudah menyerap keringat. Semua pengunjung Candi Borobudur wajib memakai sarung batik yang akan dibagikan di pintu masuk.
  • Gunakan alas kaki yang nyaman. Sandal, sepatu keds, atau flat shoes adalah pilihan terbaik. Lupakan sepatu atau sandal berhak tinggi karena akan menyiksa kakimu.
  • Bawalah topi, payung, selendang, jaket dengan capucone atau apapun yang bisa melindungi kepalamu dari terik mentari. Nggak asyik kan kalau ditengah-tengah menyusuri tangga candi kamu pingsan karena kepanasan.
  • Waktu terbaik untuk berkunjung ke Borobudur adalah di pagi hari tatkala pengunjung belum terlalu banyak atau di sore hari ketika mentari sudah mulai redup. Berjalan menyusuri Candi Borobudur di siang terik bukan pilihan yang tepat.
  • Buat kalian yang ingin menyaksikan festival lampion, datangkan ke Candi Borobudur pada saat perayaan Waisak di bulan Mei. Sebagai acara penutup akan ada prosesi penerbangan seribu lampion dari pelataran Candi Borobudur. Pemandangan dan suasananya sungguh epic!
  • Untuk mendapatkan informasi yang komprehensif soal sejarah atau kisah-kisah yang ada pada relief Candi Borobudur, ada baiknya kamu menyewa jasa pemandu resmi dengan tarif Rp 50.000 (wisatawan lokal).

Aktivitas Yang Bisa Dilakukan di Candi Borobudur

  • Pradaksina
    Pradaksina adalah aktivitas berjalan mengitari candi searah jarum jam. Dimulai dari tingkatan pertama ke arah kiri, kemudian setelah selesai baru naik ke tingkat selanjutnya. Hal ini dilakukan hingga tingkat terakhir dan tiba di puncak. Dengan melakukan pradaksina secara penuh dari tingkat 1 hingga puncak, maka kamu sudah trekking di atas candi sejauh 2 kilometer.
  • Borobudur Sunset dan Borobudur Sunrise
    Buat kalian yang ngaku sebagai “pemuja matahari”, kalian wajib menikmati sunset dan sunrise dari atas Candi Borobudur. Sinar matahari sore yang menelusup di antara lubang-lubang stupa terawang atau sinar keemasan yang menimpa wajah Sang Budha benar-benar menjadi pemandangan yang epic dan sangat sayang jika dilewatkan. Berdiri di antara tumpukan batu candi yang dingin dan basah tertimpa embun pagi juga akan menciptakan sensasi tersendiri. Apalagi saat melihat mentari yang menyembul dari balik Gunung Merapi atau Merbabu, rasanya energi positif benar-benar terserap ke dalam tubuh.
  • Mengunjungi Museum Samudraraksa
    Jangan lewatkan museum yang satu ini. Di Museum Kapal Samudraraksa kamu bisa melihat sejarah pelayaran dunia, miniatur kapal, berbagai barang yang ditemukan dari kapal yang karam, dan masih banyak lagi benda-benda menarik. Dan gong dari semua koleksi adalah Kapal Samudraraksa berbahan dasar kayu yang sudah digunakan untuk berlayar keliling dunia. Melihat kapal tersebut kamu pasti akan sangat bangga memiliki nenek moyang pelaut yang tangguh.
  • Mengunjungi Museum Karmawibangga
    Museum Karmawibangga terletak di dekat pintu keluar, tidak jauh dari Museum Samudraraksa. Berbeda dengan Museum Samudraraksa yang bersih dan ber-AC, Museum Karmawibangga terkesan lebih kusam. Di museum ini disimpan batu-batu candi yang belum ditemukan pasangannya serta arca “The Unfinished Budha” yang tersohor. Koleksi yang paling menarik adalah foto panel relief “Karmawibangga” yang menceritakan hukum sebab-akibat termasuk relief kamasutra. Kamu tidak akan pernah melihat relief ini di bangunan candi, sebab keberadaannya telah ditutup dengan batu.
  • Menunggang Gajah
    Di Candi Borobudur terdapat beberapa gajah tunggang yang bisa dinaiki wisatawan. Jika memiliki uang lebih dan ingin mendapatkan sensai petualangan yang baru, kamu bisa mengikuti tur naik gajah keliling desa dan sungai di sekitar candi. Dijamin ini akan menjadi pengalaman seru dan tak terlupakan.
  • Naik Kereta Kelinci atau Andong Wisata
    Ingin mengitari candi namun malas jalan kaki? Naik kereta kelinci atau naik andong wisata bisa menjadi solusi. Dengan naik moda transportasi ini kamu bisa mengelilingi candi dari bawah. Menyenangkan dan tidak ribet. Cocok untuk kamu yang ogah capek.
  • Bersepeda
    Ingin menikmati Candi Borobudur dengan suasana yang berbeda? Cobalah naik sepeda tandem yang disewakan di candi. Dengan bersepeda kamu bisa menyusuri jalan-jalan di sekitar candi yang jarang dilewati wisatawan.

Sejarah

Dinasti Sailendra membangun peninggalan Budha terbesar di dunia antara 780-840 Masehi. Dinasti Sailendra merupakan dinasti yang berkuasa pada masa itu. Peninggalan ini dibangun sebagai tempat pemujaan Budha dan tempat ziarah. Tempat ini berisi petunjuk agar manusia menjauhkan diri dari nafsu dunia dan menuju pencerahan dan kebijaksanaan menurut Buddha. Peninggalan ini ditemukan oleh Pasukan Inggris pada tahun 1814 dibawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.

Borobudur dibangun dengan gaya Mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Struktur bangunan ini berbentuk kotak dengan empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari luar hingga ke dalam terbagi menjadi dua bagian yaitu alam dunia yang terbagi menjadi tiga zona di bagian luar, dan alam Nirwana di bagian pusat.

Konsep rancang bangun

Pada hakikatnya Borobudur adalah sebuah stupa yang bila dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola rumit yang tersusun atas bujursangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana-Mahayana. Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana yang secara bersamaan menggambarkan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha.[51] Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 metres (404 ft) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.

Pada tahun 1885, secara tidak disengaja ditemukan struktur tersembunyi di kaki Borobudur.[34] Kaki tersembunyi ini terdapat relief yang 160 di antaranya adalah berkisah tentang Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat ukiran aksara yang merupakan petunjuk bagi pengukir untuk membuat adegan dalam gambar relief.[52] Kaki asli ini tertutup oleh penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, fungsi sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga bahwa penambahan kaki ini untuk mencegah kelongsoran monumen.[52] Teori lain mengajukan bahwa penambahan kaki ini disebabkan kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, kitab India mengenai arsitektur dan tata kota.[34] Apapun alasan penambahan kaki ini, penambahan dan pembuatan kaki tambahan ini dilakukan dengan teliti dengan mempertimbangkan alasan keagamaan, estetik, dan teknis.

Zona 1: Kamadhatu

alam dunia yang terlihat dan sedang dialami oleh manusia sekarang.

Kamadhatu terdiri dari 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Menggambarkan mengenai sifat dan nafsu manusia, seperti merampok, membunuh, memperkosa, penyiksaan, dan fitnah.

Tudung penutup pada bagian dasar telah dibuka secara permanen agar pengunjung dapat melihat relief yang tersembunyi di bagian bawah. Koleksi foto seluruh 160 foto relief dapat dilihat di Museum Candi Borobudur yang terdapat di Borobudur Archaeological Park.

Zona 2: Rupadhatu

alam peralihan, dimana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia.

Rapadhatu terdiri dari galeri ukiran relief batu dan patung buddha. Secara keseluruhan ada 328 patung Buddha yang juga memiliki hiasan relief pada ukirannya.

Menurut manuskrip Sansekerta pada bagian ini terdiri dari 1300 relief yang berupa Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka dan Awadana. Seluruhnya membentang sejauh 2,5 km dengan 1212 panel.

Zona 3: Arupadhatu

alam tertinggi, rumah Tuhan.

Tiga serambi berbentuk lingkaran mengarah ke kubah di bagian pusat atau stupa yang menggambarkan kebangkitan dari dunia. Pada bagian ini tidak ada ornamen maupun hiasan, yang berarti menggambarkan kemurnian tertinggi.

Serambi pada bagian ini terdiri dari stupa berbentuk lingkaran yang berlubang, lonceng terbalik, berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Terdapat 72 stupa secara keseluruhan. Stupa terbesar yang berada di tengah tidak setinggi versi aslinya yang memiliki tinggi 42m diatas tanah dengan diameter 9.9m. Berbeda dengan stupa yang mengelilinginya, stupa pusat kosong dan menimbulkan perdebatan bahwa sebenarnya terdapat isi namun juga ada yang berpendapat bahwa stupa tersebut memang kosong.

Relief

Secara kesulurhan terdapat 504 Buddha dengan sikap meditasi dan enam posisi tangan yang berbeda di sepanjang candi.

Koridor Candi

Selama restorasi pada awal abad ke 20, ditemukan dua candi yang lebih kecil di sekitar Borobudur, yaitu Candi Pawon dan Candi Mendut yang segaris dengan Candi Borobudur. Candi Pawon berada 1.15 km dari Borobudur, sementara Candi Mendut berada 3 km dari Candi Borobudur. Terdapat kepercayaan bahwa ada hubungan keagamaan antara ketiga candi tersebut namun masih belum diketahui secara pasti proses ritualnya.

Ketiga candi membentuk rute untuk Festival Hari Waisak yag digelar tiap tahun saat bulan purnama pada Bulan April atau Mei. Festival tersebut sebagai peringatan atas lahir dan meninggalnya, serta pencerahan yang diberikan oleh Buddha Gautama.

Borobudur diterlantarkan

Borobudur tersembunyi dan telantar selama berabad-abad terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga Borobudur kala itu benar-benar menyerupai bukit. Alasan sesungguhnya penyebab Borobudur ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Pada kurun 928 dan 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah serangkaian letusan gunung berapi; tidak dapat dipastikan apakah faktor inilah yang menyebabkan Borobudur ditinggalkan, akan tetapi beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.[6][18] Bangunan suci ini disebutkan secara samar-samar sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit. Ia menyebutkan adanya “Wihara di Budur”. Selain itu Soekmono (1976) juga mengajukan pendapat populer bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15.[6]

Monumen ini tidak sepenuhnya dilupakan, melalui dongeng rakyat Borobudur beralih dari sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang lebih bersifat tahayul yang dikaitkan dengan kesialan, kemalangan dan penderitaan. Dua Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk yang dikaitkan dengan monumen ini. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Jawa), monumen ini merupakan faktor fatal bagi Mas Dana, pembangkang yang memberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709.[6] Disebutkan bahwa bukit “Redi Borobudur” dikepung dan para pemberontak dikalahkan dan dihukum mati oleh raja. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram), monumen ini dikaitkan dengan kesialan Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi monumen ini pada 1757.[30] Meskipun terdapat tabu yang melarang orang untuk mengunjungi monumen ini, “Sang Pangeran datang dan mengunjungi satria yang terpenjara di dalam kurungan (arca buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang)”. Setelah kembali ke keraton, sang Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian. Dalam kepercayaan Jawa pada masa Mataram Islam, reruntuhan bangunan percandian dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh halus dan dianggap wingit (angker) sehingga dikaitkan dengan kesialan atau kemalangan yang mungkin menimpa siapa saja yang mengunjungi dan mengganggu situs ini. Meskipun secara ilmiah diduga, mungkin setelah situs ini tidak terurus dan ditutupi semak belukar, tempat ini pernah menjadi sarang wabah penyakit seperti demam berdarah atau malaria.

Penemuan kembali

Setelah Perang Inggris-Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, Jawa di bawah pemerintahan Britania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Ia mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa. Pada kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro.[30] Karena berhalangan dan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur. Meskipun penemuan ini hanya menyebutkan beberapa kalimat, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen ini, serta menarik perhatian dunia atas keberadaan monumen yang pernah hilang ini.[11]

Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca buddha besar di stupa utama.[31] Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.

Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang dirampungkannya pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian.[31] Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.[32]

Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor “pemburu artefak”. Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri agar kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen.[32] Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.

Bagian candi Borobudur dicuri sebagai benda cenderamata, arca dan ukirannya diburu kolektor benda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan salah satunya direstui Pemerintah Kolonial. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini dipamerkan di Museum Nasional Bangkok

Lokasi dan Akses Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dari Yogyakarta tempat ini dapat ditempuh sekitar 1 jam menggunakan kendaraan pribadi dengan rute Yogyakarta – Jalan Magelang – Muntilan – Mendut – Borobudur. Kamu pun bisa mencapainya dengan memakai kendaraan umum. Dari Terminal Jombor silahkan naik microbus jurusan Jogja – Borobudur dan turun di Terminal Borobudur, kemudian dilanjutkan dengan naik andong atau berjalan kaki menuju komplek candi.

Jam Buka Candi Borobudur

Candi Borobudur buka setiap hari mulai pukul 06.00 – 17.00 WIB.

Harga Tiket

[Domestik] Dewasa: Rp 30.000, anak-anak di bawah 6 tahun: Rp 12.500
[Foreigners] Adult: USD 20, children and student: USD 10

Bagi rombongan pelajar dengan jumlah minimal 20 orang atau orang dewasa dengan jumlah minimal 30 orang bisa mendapatkan harga khusus. Caranya cukup lapor ke loket pelayanan dispensasi di ticketing area.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati sunset maupun sunrise di Borobudur akan dikenakan tiket khusus sebesar Rp 250.000 (domestik), Rp 380.000 (foreigners), Rp 230.000 (wisatawan yang menginap di Hotel Manohara). Tiket Borobudur Sunrise dan Borobudur Sunset tidak dibeli di counter ticket melainkan dipesan di Hotel Manohara. Untuk reservasi bisa menghubungi nomor (0293) 788131, 788680.